728x90 AdSpace

  • Latest News

    Pengalaman Seru Mendebarkan di Tengah Turbulence Bersama Garuda Indonesia

    Sunset dari Pesawat Garuda Indonesia


    MyAmazingAdventure - Bersiap untuk penerbangan berjadwal Garuda Indonesia No: Flight: GA 191 Pkl 17.00, seperti biasa saya check-in minimal 1 jam sebelum penerbangan dan menuju waiting room Gate 11.

    Tiket balik ke Jakarta (CGK) dari Bandara Canggih Medan Kuala Namu (KNO),
    Booking Code: 8PSEMM High Economi Calss Y, Seat 6 lorong ini harganya muahal bingids. Hiks hiks.

    Maklum saja beli tiket yang hampir on the spot ini berharga 3x lipat dari biasanya sehingga cukup menguras kantong ditambah kenaikan pajak bandara Kuala Namu Rp75.000.
    *Beli tiket dadakan karena galau mau balik ke Jakarta ninggalin bokap yang tampak sedih.


    Berhubung udah manggul kamera DSLR jadul demi berniat mendapatkan sunset, sembari membawa Garuda Miles Card gue request di counter duduk bisa dapatin seat yang close to window . Akhirnya duduk di Seat 42K sembari mengingatkan staff counter check-in tak lupa memasukkan Point Mileage Garudaku.
    Karena check-in lebih awal, boarding gate lebih awal, akhirnya gue pun selfie lebih awal. Hahay..!


    Kalau keberangkatan Jakarta - Medan berkode booking 7GM6DG gue sempat mengalami delay yang menyenangkan. Bagaimana tidak? saya delay karena pesawat harus mengantri untuk lepas landas yang membuat gue dapat bonus jepret satu-satu pesawat yang landing dan take off di depan mata. Bisa dihitung - hitung mungkin ada 10 antrian lebih pesawat depan belakang.  Akhirnya saya jepret Garuda Indonesia, Batik Air, Lion Air, Sriwijaya, Airasia.


    Tiba-tiba gue ngerasa zoom kamera gua makin udah gak nyampe, ehh ternyata pesawat Garuda yang gua naikin udah naik. Please deh.

    Nah, itulah delay yang menyenangkan buat gue, delay karena antri lepas landas , sempat gue nyari dimana pesawat Citilink. (Ah, lupa terminalnya kan beda..! ). Penerbangan kali ini ditemani cuaca cerah dan  semakin menyenangkan dengan santapan lezat dan Film seru Garuda Indonesia.


    Tapi lain halnya pada saat mau kembali ke Jakarta, kali ini gue sedih karena ternyata pesawat delay hampir 1 jam dan nunggunya di ruang tunggu. Duduk mendengar obrolan 3 orang tua mengenakan stelan jas lengkap,  akhirnya gue beranjak jalan-jalan dari Gate 11.

    Ow..Ow...! We are in Kuala Namu girls. Gue baru nyadar, itu semua pesawat bisa kelihatan dari ruang kaca raksasanya bandara ini. Mulai beraksi kembali jepret sana jepret sini. Yang ketemu tentu pesawat Garuda Indonesia , lalu Lion Air, Airasia dan Malaysia Airlines. 

    Ternyata pesawat yang akan kami gunakan adalah pesawat yang baru mendarat tadi. Bokap bolak balik telepon nanyain "Ri..itu kok pesawat kamu baru mendarat tapi langsung terbang lagi? gak di service dulu itu? tanyanya berkali-kali berasa gua masinis pesawat.

    Bokap selalu info di telepon setiap kali ia melihat pesawat Garuda yang bergerak. Jadi selamat gua di waiting room dan pengantar juga ada ruangan tersendiri yang membuat bisa saling melihat, itu bokap tetap online HP di telinga kanan gue. Haha. 

    Akhirnya kita masuk pesawat dan gue masuk lebih awal, dan pastinya selfie lebih awal. 
    Jujur, sebenarnya gue sempat mengalami trauma naik pesawat bukan karena kejadian menyedihkan dari penerbangan sebelumnya, tapi penerbangan perdana dengan suatu maskapai yang ternyata malah gagal mendarat (baca : Maskapai Penerbangan 7551 Gagal mendarat), Ah gak usah baca deh..itu cuma masa lalu. Haiss..! 

    Setelah lepas landas, Pilot meberitahukan cuaca buruk dan berawan,  baik bandara keberangkatan maupun tujuan. Mhh, gua menghela nafas panjang dan berdoa penerbangan ini akan menyenangkan. 

    Walau gua kaget ketika ternyata oh ternyata..tidak ada TV di belakang kursi pesawat dan tidak bisa mendengar lagu. Yah karena gua pegang kamera yah gue jeprat jepret keindahan awan dan sunset. 

    Tiba-tiba Episode Turbulence pesawat pun dimulai dan pesawat bergumul dengan awan tebal. Pesawat menaikkan ketinggian dan berhasil melewati awan Cumulonimbus. Tak lama kemudian turbulence (goncangan) kembali dan again..pesawat mencoba menghindari awan dan naik kembali. Sejenak pemandangan lapisan awan pun terlihat dengan warna orange sunset yang memancar. 

    Karena berulangkali Turbulance dalam durasi waktu berdekatan, gue coba beraktifitas dengan berkenalan dengan orang di sebelah gue, soalnya kalau pura-pura jepret sana sini, gua bagai Photographer teraneh di dunia yang fotoin awan putih sama rata, udah kayak foto Zoom kapas putih kan yah.

    Kemudian gue coba nyapa tetangga sebelah gue:

    Gue:  " Lagi tugas ke Jakarta ya mba?", 

    Dia yang bernama Sushi (bukan menteri sushi yah) menjawab:

    "Oh saya memang lagi tugas, tapi ini saya mau balik ke Jakarta ".

    Kemudian kami ngobrol asyik panjang lebar sembari 1 tangan mengepal pegangan kursi dan serasa tak berani beranjak, seolah -olah berpikir entar pesawat oleng gara-gara gua gerak sana sini (please dehh..) Serunya nih, obrolan juga berkualitas dan enggak garing karena menyangkut detoksifikasi dan kesehatan. *kebetulan dia  Leader Health & Nutrition Consulting

    Di sela-sela pembicaraan gua sempatkan bertanya... 

    Gue: " Oh, jadi sering bolak balik Medan Jakarta yah? ". 

    Sushi : " Iya, bisa sekali seminggu "

    Gue : " Oh, jadi sudah sering banget dong mengalami turbulance seperti ini mba ?"  (Sok nanya tenang padahal mengalihkan kecemasan turbulance)

    Sushi: " Oh kalau rute ini mah sering mengalami turbulance"

    Gue : Menghela nafas sedikit (tuh kan..)

    Tiba-tiba pesawat bergoncang dan turun 1 detik, 1.5 detik dan bertahan ditengah turbulance,  kami berdua saling menegakkan diri memegangi kursi, lalu lanjut ngobrol.  

    Gue: Oh ya mba, jujur nih saya sebenarnya sedikit merasa ngeri juga dengan kondisi cuaca buruk dan turbulance begini, bukan karena kejadian baru-baru ini, tapi karena sempat gagal mendarat dulu.  

    Sushi: " Oh ya? gimana ceritanya ? "

    ...........cerita sekilas............

    Sushi: " Mhh...oww...hahh? mmhh, wohh..." 


    Gue :  Dalam hati (ngapain juga gua ngomong begini yah..?)

    Sushi: Tau gak mba? 

    Gue: Gak tau ! (dalam hati)

    Sushi:  Dulu suami saya mba pulang dari Jeddah, waduh ngeriiii banget.  (panjang lebar cerita mulai dari maskapai Emirate Arab sampai Malaysia Airlines)

    Gue : (dalam hati) Wah dia familiar benar tentang traveling dan istilah - istilah dalam dunia penerbangan, asyik nih ngobrol "

    Pembicaraan semakin seru, udah ngobrol seru kayak ibu-ibu arisan, untungnya aja kita bukan tetangge, kalau nggak?  bakal ngomongin mantan pacar tetangganya kakak ipar ponakan teman kantor suami. 

    Terselip tawa dalam obrolan di tengah-tengah turbulance, penumpang lain pun terkadang menoleh ke belakang cari sumber suara. Jangan-jangan mereka mikir mau ngomong " Siapa ini yang ngomong asik bener kagak habis-habis, mana pesawat lagi turbulance, semua asyik berdoa." Atau malah mereka mau ngomong ini kali yah " Berisik bener, kagak tau apa gua mau tidur".    Au ahh..! hahaha.

    Tapi enggak kok, mereka cuma tersenyum. Biasalah terkadang kalau kondisi cuaca buruk penumpang saling menatap atau mencari apakah penumpang lain merasakan ketegangan yang sama. Mereka tidak tau saya juga sembari berdoa cuaca tenang dan penerbangan baik-baik saja.

    Gue : " Tau gak mba Sushi? saya naik pesawat itu benar-benar bertobat"

    Sushi: " Kenapa mba ria?"

    Gue : " Tanpa sadar gue sudah menaruh harapan gue sama pesawat ini, padahal kita harus tetap menaruh harapan sama Tuhan. Pesawat secanggih apapun, tidak ada yang sempurna dan mengubah cuaca."

    Sushi: "Iya juga yah"

    Gue: " Memang bijaksana itu perlu, kita bisa memilih pesawat yang memberikan kenyamanan lebih, tetapi jangan tanpa sadar kita gak sengaja merasa aman karena pesawat, tapi kita merasa aman karena ada Tuhan di dalam kita"

    Sushi : " Iya juga ya mba, bener juga, sebenarnya saya sudah biasa mengalami perjalanan dengan turbulance begini, tapi sejak kejadian baru-baru ini saya sedikit ada rasa gelisah juga. Tapi benar, pengharapan kita hanya taruh sama Tuhan "

    Gue : (dalam hati) "Oh, ternyata dia cemas juga dengan turbulance ini, berarti pembicaraan ini juga membuat lebih ringan". 




    Setelah landing dan agak lama berputar-putar ke termpat parkir di Bandara Soekarno Hatta, akhirnya kami sampai 2 jam 2 menit.  Menunggu bagasi yang 20 menit baru muncul menguji kesabaran juga.

    Tapi gue banyak mengambil hikmah dari pengalaman gue naik pesawat kembali ke Jakarta minggu lalu.

    1. Secanggih apapun maskapai yang anda gunakan "Put your hope to God, not to the airlines". Taruhlah pengharapan anda pada Tuhan bukan pada pesawat, walau perlu bijak memilih pesawat.

    2. Ekspresi wajah kita yang tenang, ternyata sangat ampuh untuk menenangkan penumpang lain. (I'm Serious... When you do that, you being a hero.)

    3. Boleh berkenalan dan ngobrol dengan penumpang lain dan ampuh menurunkan ketegangan orang lain atau diri sendiri. Bahkan pembicaraan berkualitas pun bisa anda dapatkan and increase your knowledge

    4. Aku percaya, teman/saudara kita yang mengalami kejadian baru-baru ini (pasti mengerti maksud saya), saya yakin semua awak cabin, pilot dan penumpang hanya berbicara dengan Tuhan Sang Pencipta di detik-detik kehidupan mereka akan kembali. 

    Bagaimana dengan kita? apakah kita tau kapan waktu-waktu kita? dalam keadaan apa kita saat itu? apakah dalam keadaan memaafkan orang-orang yang melukai kita? memilih mengampuni mereka? dan berdoa kepada Tuhan? atau bahkan di detik-detik terakhir kehidupan kita, justru kita malah memilih masih membenci orang lain.

    Jika anda merasa tidak butuh Tuhan, dan gak perlu Tuhan ada, merasa anda adalah orang paling besar dan hebat, cobalah berbicara dengan jiwa anda sendiri sembari menatap bumi dan awan dari ketinggian 38.000 kaki. Lihatlah betapa Tuhan itu sangat besar dan memberikan kesempatan kepada anda berulangkali untuk menyadari bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari, mengisinya dengan hal berarti adalah menjadi pilihan.

    Dan anda bisa menyadari seperti yang Dr. Myles Munroe katakan: 
    The Value of life is not in its duration but in its donation, You are not important because how long you live but you are important because of how effective you live. And most people are concerned about growing old rather than being effective

    yang kalau saya terjemahkan kira-kira begini artinya:

    " Hidup itu enggak ngomongin masalah jumlah waktu, tapi sumbangan yang bernilai yang bisa anda berikan. Anda tidak menjadi amat berarti ketika semakin lama hidup di dunia, tetapi anda sangat berarti dari seberapa efektif anda dalam hidup anda. Banyak orang lebih fokus berpikir untuk ber umur panjang sampai lupa menjadi orang yang efektif dan berguna bagi diri dan orang lain"


    So, we do not need to worry about everything, because God knows our needs, yang penting adalah lakukanlah hal-hal yang berguna dan bernilai penting bagi kita dan orang lain, itu adalah nilai kehidupan kita.



    Live is An Adventure, Enjoy your life and being a blessing to the other.


      

    * Menyusul Dokumentasi Lengkap Foto di Atas Awan Bersama Garuda Indonesia




    • Blogger Comments
    • Facebook Comments
    Item Reviewed: Pengalaman Seru Mendebarkan di Tengah Turbulence Bersama Garuda Indonesia Rating: 5 Reviewed By: myamazingadventure.com
    Scroll to Top