728x90 AdSpace

  • Latest News

    Air Asia QZ7551 Gagal Mendarat

    Air Asia, Pic: Wikipedia.org
    riacitinjaksSenin 02  Desember  2013 setelah acara Gathering Blogger Nusantara yang diadakan di Yogyakarta, saya dan sahabat saya Shanty  bermaksud untuk kembali ke Jakarta. Diantar oleh sahabat yang menjadi keluarga di Mapala UGM, kami berangkat dengan penerbangan QZ7551 maskapai Air Asia pukul 16: 10 Seat 26E  dan 26F. Penerbangan delay selama 18 menit, dan pesawat take off dalam keadaan mulus.

    Setelah hampir satu jam terbang,  Pilot memberitahukan bahwa sesaat lagi  pesawat akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Namun, tak lama kemudian pesawat mengalami guncangan yang hebat.
    Saya, berusaha melihat keluar jendela bermaksud  mengetahui kondisi  diluar, apakah cuaca buruk yang meyebabkan  kondisi pesawat begitu terguncang sehingga tidak stabil cukup parah.  Rasa gusar timbul di wajah setiap penumpang, “berharap, berdoa dan pasrah menyatu membekukan kaki yang mulai dingin” karena kondisi pesawat sungguh tidak stabil.

    Saya sering mengalami penerbangan dalam cuaca buruk selama 2 jam dari Medan-Jakarta, hanya saja tidak menggunakan maskapai Air Asia kala itu. Jadi, penerbangan kali ini sedikit lebih tenang karena sudah terbiasa dalam pesawat yang mengalami guncangan karena awan tebal maupun angin kencang.

    Namun kondisi kali ini berbeda dan ada  sesuatu yang  ganjil saya rasakan ketika pesawat hendak mendarat & menungkik miring begitu tajam dan cepat dalam awan tebal, sehingga membuat penumpang berteriak dan memegangi pundak kursi di depannya.  Lalu terdiam lagi dalam wajah cemas, saling tatap menghembuskan nafas dari dada yang sesak membuat kekhawatiran tak dapat ditutupi.

    Shanty teman saya pun merasakan ketakutan dan berkata dalam bahasa awam “ Kalau cuaca buruk, kenapa terbangnya ugal-ugalan, kakiku sudah dingin”. Akan tetapi dalam hati aku mengetahui, sesungguhnya baru saja “Pesawat Gagal mendarat”

    Saat itu tidak ada pemberitahuan dari pilot, bel tanda pilot akan berbicara berbunyi, namun tiba-tiba dimatikan lagi tanpa satu kata. Pramugari dan pramugara pun tak mampu berkata  apa-apa. Pesawat "take off" di udara lagi dan naik ke kembali menembus awan. Dalam ketakutan dengan pesawat tidak stabil (seperti bus berjalan cepat di jalan berlubang) Akhirnya sekitar 7 menit kemudian barulah ada pemberitahuan “Pilot memutuskan membatalkan pendaratan  di Bandara Soekarno Hatta karena cuaca buruk”

    Kondisi semakin menegangkan, pesawat kembali terguncang dan  turun dengan kecepatan  tinggi. Hampir sekitar 3 detik pesawat bak akan terhempas jatuh ke bawah. Penumpang yang  juga banyak turis asing ini, begitu ketakutan dan lemas bagai nyawa akan terlepas dari tubuh.  Saya pun berdiam dalam suasana menegangkan itu, dan minta Tuhan tolong kami.

    Mendengar teriakan histeris  anak-anak yang ketakutan setiap pesawat yang turun tiba-tiba seperti akan jatuh, membuat kondisi  penumpang semakin tertekan dan tak bergerak. Pernah bermain "Histeria" di Dufan Ancol? begitulah suasana di dalam pesawat yang turun tiba-tiba bagai kita akan melayang jatuh. Atau pernahkah anda berada di sebuah bus yang melewati pembatas jalur busway dengan cepat ? atau berada di kendaraan yang melintasi jalan bebatuan dan lubang besar?  begitulah kondisi badan para penumpang.

    Seorang penumpang turis asing tampak begitu khawatir dan memegang jantung setiap kali pesawat turun ke bawah. Lalu saya mencoba menyapa dengan bahasa inggris yang acakadut, 

     “Sir, you know the story of peter?”

    "No! I don't know"  jawabnya sambil ketakutan.

    “When He was in Ocean,  He found the big trouble, but he dosent worry, and be still than pray to God, the good things will come”

    Ia tak menyadari  percakapan kami baru saja berhasil  mengalihkan perhatiannya pada guncangan hebat pesawat.  “You must believe that this is will be the best flight, we can pray to God, we will be okay”, jawabku menenangkannya . Kemudian dia bercerita bagaimana sampai bisa naik pesawat ini (saat ia bicara pesawat masih terguncang hebat)

    Berhubung saya manusia, saya pun berdoa, namun kini doanya pun berubah “tidak  minta tolong sama Tuhan lagi”, namun memperkatakan apa yang ingin saya lihat. “ God, aku perkatakan aku akan melihat cuaca yang terbaik, and I pray, this is the best flight, aku perkatakan pesawat akan mendarat dengan indah dan semua penumpang baik-baik saja. I believe it and  I receive it, Amin.

    Doa yang singkat tapi membangun rasa percaya, yang ada dipikiran saya hanyalah penerbangan yang mulus, cuaca cerah, pesawat mendarat dengan indah. Saya singkirkan pikiran yang berkelebat bahwa pesawat akan jatuh.

    Sejenak saya tepuk, tangan seorang penumpang bernama Monica yang begitu tegang, sehingga  kami berkenalan dalam situasi buruk itu. Ketegangan sedikit melonggar dengan percakapan yang membangun sekalipun saat itu kondisi pesawat amat tidak stabil.

    Pesawat masih berputar-putar mencoba mendarat yang kedua kali dan masih terguncang, tapi saya putuskan untuk tidak khawatir, enggak mau khawatir, karena ketika saya khawatir, sama dengan saya meng-cancel apa  yang saya doakan dengan percaya. 

    Sejenak saya melihat pesawat sudah melintasi lautan lagi, namun dekat sekali ke permukaan laut. Saya juga menyingkirkan pikiran yang melintas lagi bahwa pesawat akan mendaratkan dirinya ke laut. "Tidak.. ! cuaca akan berubah cerah, pesawat akan mendarat dengan mulus."

    Tak lama kemudian saya lihat langit senja berubah berwarna orange begitu indah, dan pesawat mulai terbang merendah tanpa guncangan hebat. Mengamati kondisi di luar diantara penumpang yang tegang, saya  bersuara bak  sedang yel yel dan mengatakan “ bisa, bisa, bisa, bisa, bisa yey..bisa, bisa, bisa, bisa” dan bertepuk tangan sendiri.

    Pesawatpun bersiap-siap mencoba melakukan pendaratan ke-2 dan you know? Itu pendaratan yang sangat mulus. Segera sesak di dada mengendur saat roda pesawat menyetuh daratan dan suara kelegaan serentakpun menggantikan suara guncangan awan. "Thats The Power of Prayer Sir..! kataku pada pria western yang duduk disebelahku. "Yes..! Thankyou" teriaknya tersenyum lebar dengan nafas lega.

    Turun dari pesawat saya hanya memperhatikan besi terbang itu, ahh…dalam situasi buruk ini ternyata aku masih hidup, pasti Tuhanlah yang memegang pesawat itu. Entah disisi mana di bandara kami mendarat, tapi belum pernah melewati sisi gedung bandara ini, ahh sudahlah yang penting selamat.

    Thanks God, Untuk keselamatan yang Tuhan kasi, itu  artinya aku berkesempatan untuk berkarya lagi, semoga Pilot pun belajar dari situasi ini. Belajar dari kegagalannya mendarat pertama.

    Pukul 18.02 akhirnya kami tiba di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta dengan selamat setelah sekitar 35 menit terkatung-katung di udara. Turun dari pesawat cuaca terasa begitu indah, tak lama kemudian gerimis pun turun.




    Kita tidak bisa melarang burung-burung melintas di kepala kita, tetapi kita bisa melarang mereka membangun sarang di kepala kita – Kita tidak bisa melarang pencobaan melintas di pikiran kita, tetapi kita bisa melarang membiarkan pikiran negatif berdiam di pikiran kita


    Sumber: Pengalaman Pribadi, ditulis di bus Damri - Bandara Soekarno Hatta

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments
    Item Reviewed: Air Asia QZ7551 Gagal Mendarat Rating: 5 Reviewed By: myamazingadventure.com
    Scroll to Top