728x90 AdSpace

  • Latest News

    Konflik Diselesaikan secara Internal, Proaktif Menjaga Kredibilitas Organisasi Regional Asean

    Konflik Asean Sebaiknya diselesaikan secara Internal
    Untuk menciptakan satu Kesatuan Asean 2015, perlu ada landasan sebagai tempat berpijak untuk mulai melangkah menghadapi dinamisasi dan gblobalisasi. Karena itu perlu ada ikatan kuat sehingga seluruh lapisan masyarakat Asean mengerti dan merasakan manfaat dari terbentuknya komunitas Asean ini terkhusus pada generasi muda yang kelak akan keluar sebagai pemimpin dan pembangun ekonomi bangsa.

    Kesepakatan negara-negara Asean pun dalam pembentukan Kesatuan Ekonomi Asean akan menciptakan terjadinya arus lalu lintas barang dan jasa, invesasi antar negara memiliki rung gerak yang bebas.Oleh karena itu pemuda dan masyarakat harus lebih mempersiapkan diri dengan mengasah skill untuk bisa menghadapi era pasar bebas ini.

    Karena itu ada 3 Pilar Kesatuan Komunitas Asean 2015, yaitu:
    1. Komunitas Politik Keamanan Asean
    Lebih kepada penekanan aturan dan norma politik  bagi negara -negara Asean

    2. Komunitas Ekonomi Asean
    Lebih kepada pasar bebas yang berbasis pada pasar tunggal Asean, jadi akan memungkinkan arus lalu lintas ekspor impor lebih sering terjadi tanpa terhambat berbagai syarat yang berat, oleh karena itu persaingan juga akan semakin ketat

    3. Komunitas Sosial Budaya Asean
    Negara-negara Asean bisa bekerjasama dalam hal pengentasan kemiskinan, menjaga lingkungan hidup, penganggulangan terhadap bencana.


    Mari kita lihat Pilar pertama, mengapa Politik menjadi pilar nomor 1 Asean.?
    Pada dasarnya setiap negara akan mengutamakan kepentingan nasionalnya dalam sebuah kerjasama luar negeri, oleh karena itu perhatian pada kemanan menjadi nomor satu dalam pilar ini.

    Bagaimana jika terjadi konflik Internal ASEAN?

    Persengketaan antar negara tentua terjadi disebabkan oleh setiap negara mempertahankan kepentingan nasionalnya, entah itu dalam hal wilayah kekuasaan atau hal lainnya. Karena itu, diharapkan dengan adanya kesatuan Asean, persengketaan yang kelak mungkin saja terjadi, bisa diselesaikan secara intenal ASEAN. Apabila terjadi persengketaan antara Kamboja dan Vietnam, maka Indonesia bisa menjadi mediasi untuk menciptakan perdamaian dan  bersama-sama mencari solusi. Apabila terjadi persengketaan tentang wilayah kekuasaan atau batas wilayah suatu negara antara Malaysia dan Singapore, maka Indonesia atau negara-negara lainnya bisa menjadi mediasi melakukan perundingan mencari jalan keluar.

    Demikian kedepannya setelah pembentukan komunitas Asean 2015 nanti, apabila terjadi persengketaan, maka Asean hendaknya menjadi yang terutama untuk menyelesaikannya sehingga perdamaian tetap terbentuk. Namun apabila negara yang bersengketa segera mencari solusi kepada dunia internasional, maka ini sama halnya dengan mencoreng ASEAN di mata dunia. Penyelesaian konflik internal dilakukan di Intenral Asean merupakan bukti  bahwa Kesatuan Asean itu Kuat di mata ASEAN dan Organisasi Regional Global.

    ASEAN adalah organisasi regional yang ddirikan pada tanggal 8 Agustus 1967. ASEAN pun bersatu dan bertumbuh sebagai negara yang berdasarkan pada hukum. Dalam perjanjian terbentuknya organisasi persahabatan ASEAN, masing-masing anggota juga sepakat untuk meninggalkan cara-cara kekerasan untuk penyelesaian konflik dan mengutamakan jalur perdamainan.

    Sangat sering terjadi negara-negara Asean lebih memilih membawa  konflik internal-nya ke lembaga internasional, seperti Mahkamah Internasional (Den Haag), mengapa? bukankah ini sebernanya menunjukkan bahwa adanya tingkat kepercayaan yang masih rendah diantara sesama negara Asean..?

    Sejarah Konflik yang pernah Terjadi di Kawasan Asia Tenggara

    Konflik Persengketaan Indonesai dan Malaysia pada tahun 1966.
    Indonesia dan Malaysia bersengketa mengenai wilayah perbatasan yang memperebutkan pulau Sipadan dan Ligitan, dimana kedua negara ini membawa penyelesaian masalah ini ke Mahkamah Internasional

    Tahun 1990, Filiphina juga tengah berupaya menyelesakan konflik di Mindano Selatan, dan Indonesia bersama Filiphina kembali membawa penyelesaian masalah ini ke organisasi internasional seperti OKI (Organisasi Konfresi Islam)

    Semua pengalaman ini segera diikuti oleh negara Asean lainnya ketika mengalami konflik tanpa perlu pikir pajang untuk meminta dunia internasional menyelesaikannya yang notabene berasal dari negara eksternal Asean. 

    Konflik Thailand dan Kamboja
    Indonesia melalui ketua Asean Marty melakukan dukungan dan mediasi kepada Thailand dan Kamboja untuk dapat menyelesaikan sengketa secara bilateral. Namun sekalipun Indonesia telah berupaya menjadi mediasi dalam persengketaan ini, ternyata pihak yang bersitegang (Kamboja) justru mengadukan permasalahan ini dengan meminta bantuan  PBB untuk membantu menyelesaikan masalah itu, agar negara Thailand segera menarik pasukan militernya dari wilayah sengketa. Pada peristiwa ini terdapat baku tembak yang menewaskan banyak militer.

    Jujur saja, apabila kemudian ternyata ketika terbentuk Kesatuan Komunitas Asean 2015 masih saja terjadi konflik dan penyelesaiannya melibatkan pihak eksternal Asean, sesungguhnya ini mencoreng wajah Asean di mata dunia. Apa gunanya Kesatuan Asean 2015 kita kumandangan sebagai kesatuan kuat di dunia global jika ternyata hal seperti ini terulang kembali?

    Sama halnya dengan yang terjadi sekarang antara Singapura dan Malaysia, kembali lagi terjadi persengketaan akan wilayah perbatasan. Apakah permasalahan ini bisa diselesaikan secara internal  Asean atau tidak? Yang pasti, apabila masalah ini sudah dibawa ke mahkamah internasional akan menjadi sesuatu tontonan yang menyedihkan di mata rakyat. Bagaimana tidak, konflik "keluarga" selalu berujung penyelesaian dengan pihak di luar "keluarga" Asean, sementara tahun 2015 kita akan mengokohkan Kesatuan Asean di mata dunia.
    Sebaiknya 10 negara anggota ASEAN,  mulailah  tanamkan kepercayaan terhadap negara sesama  Asean sendiri, jika ternyata sama sekali tidak bisa diselesaikan , silahkan jika harus meminta bantuan internasional untuk menyelesaikannya. Namun, sebelum menuju komunitas Asean 2105, waktunya masyarakat Asean lebih proaktif menunjukkan kredibilitas sebagai organisasi regional dan sebagai satu kesatuan Komunitas Asean.

    Konflik Malaysia dengan Brunei Darussalam
    Masih dalam kasus yang sama, yaitu persitegangan dalam perebutan wilayah perbatasan. Dimana  daerah Limbang yang awalnya dikendalikan oleh Serawak, namun melihat dari letak geografisnya Brunei mengklain bahwa itu adalah wilayah mereka yang dijadikan Malaysia sebagai wilayahnya dan memasukkan wilayah ini ke Peta Malaysia sebagai penegasakan kepemilikan.

    Namun terjadi lagi sengketa di perairan Brunei dan Malaysia. Namun kala itu berdasarkan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan kembali dalam keputusan dewan internasional  1958 . Wilayah ZEE melingkupi seluruh perairan selatan Brunei. Namun di tahun 1979 (Setelah terbentuknya ASEAN), Malaysia mengeluarkan batas teritorial yang merupakan wilayah ZEE milik Brunei


    Konflik Malaysia dengan Kesultanan Sulu, Filiphina Sampai Tahun 2013 (sekarang)

    Sengketa ini terjadi ketika Kesultanan Sulu menganggap bahwa Malaysia telah menyewa Sabah dan Serawak seharga 5.300 ringgit per tahun. Dan Kesultanan Sulu menuntut kepada Malaisya untuk segera mengembalikan wilayah itu  dan mengganti segala kerusakan yang sudah terhadi dalam proses sengketa selama ini.


    Asean harus segera menjembatani konflik yang terjadi di negara ini. Konflik yang terjadi sampai sekarang ini telah menewaskan banyak korban. Karena itu Negara-negara Asean harus segera duduk bersama menyelesaikan konflik ini sebelum dimulainya Komunitas Kesatuan Asean.

    Banyaknya korban yang terjadi dalam sengketa Malaysia dan Kesultanan Sulu jangan sampai dianggap menjadi kegagalan organisasi regional Asean atau kegagalan kesatuan rumpun melayu di zaman modern.

    Konflik Malaysia dan Singapura

    Kembali lagi Malaysia bersitegang dengan negara Asean lainnya, dan kali ini negara Singapura . Malaysia meng-klaim bahwa Pedra Barca adalah wilayah mereka dan bukan milik singapura. Negara Malaysia pun membawa masalah ini ke Mahkamah I di Hamburg pada 4 September 2013.
    Baju Puteh yang terletak di sela Singapura dan tenggara Johor akhirnya jatuh ke Singapura dengan melihat dasar teritorial pada tangagl 23 Mei 2008.

    Sayang sekali untuk penyelesaian Sengketa ini harus melibatkan dunia internasional, padahal Asean harusnya menjadi organisasi regional yang diakui dunia, tetapi untuk menyelesaikan konflik internal kenapa harus  diselesaikan secara eksternal.

    Namun apabila kemudian telah terjadi perundingan sebaiknya penempatan Patok (pembatas wilayah) lebih diperhatikan, sehingga tidak mengalami pergeseran. Karena ada kalunya karena kondisi tertentu contoh: bencana alama, longsor, menyebabkan adanya patok-patok yang mengalami pergeseran atau bahkan digeser secara sengaja atau hilang. Patok yang sudah ditanamkan diletakkan di tempat terntentu yang berbeda, padahal pergeseran ini memiliki kesensitifan yang tinggi karena mencakup batas wilayah.

    Metode pengukuran pun harus terus dikembangkan karena perbedaan itnerprestasi tentang wilayah batas bisa berbeda-beda. Adanya pengukuran di lapangan memungkinkan demarkasi. Kondisi di Peta belum tentu sama dengan kondisi alam. Alam sendiri bisa mengalami perubahan. Oleh karena itu perlu dilakukan pembaharuan pengukuran batas wilayah. Misalnya: Karena tinggi suatu tempat bersifat relatif, Penentuan titik tertinggi itu bisa dihitung dari permukaan laut.

    Penentuan titik koordinat wilayah perlu untuk ditetapkan untuk memudahkan pencarian, hal ini bisa menjadi dasar apabila di kemudian hari terjadi sengketa.  Untuk koordinat di daratan, Indonesia sudah memiliki tingkat keamanan yang tinggi , sehingga apabila terjadi pergeseran tapal batas maka titik koordinat bisa menjadi acuan.

    Opini Saya:

    Sebelum menuju Kesatuan ASEAN 2015 , sebaiknya setiap pemerintah negara harus memiliki kesepakatan untuk menyelesaikan konflik secara itnernal terlebih dahulu dengan membangun kepercayaan terhadap masing-masing negara ASEAN.

    Apabila telah mencapai kesepakatan melalui perundingan secara Internal, sebaiknya dilakukan deklarasi terhadap kepemilikan wilayah perbatasan secara ASEAN, bukan meng-klaim sendiri. Kemudian setelah itu dilakukan perubahan terhadap Peta Wilayah Negara-negara ASEAN. Karena keberhasilan klaim wilayah di satu negara tertentu akan merubah batas wilayah negara lainnya.

    Apabila sudah dilakukan pemetaan , segera ciptakan pembangunan. Entah dalam bentuk apa, bisa dalam bentuk penempatan patok yang jelas dan tidak mudah mengalami pergeseran , bisa berupa patok  (tower raksasa). Demikian juga apabila titik koordinat jatuh di wilayah daratan (pegunungan/hutan) dan atau Penempatan Patok khusus untuk wilayah lautan.

    Namun untuk wilayah daratan yang bisa dijadikan pemukiman penduduk sebaiknya dilakukan pembangunan desa dan dengan segera membuat sistem administrasi wilayah yang lengkap, dengan demikian memberikan rasa aman bagi penduduk yang tinggal di wilayah perbatasan yang juga memberi titik aman bagi suatu negara dengan terbentuknya populasi masyarakat yang kental dan sarat dengan budaya negara tertentu.


    Kiranya Kesatuan Asean Komunitas Menjadi Organisasi Regional Perserikatan Bangsa -Bangsa Asia yang Disegani dan Berdiri Kuat di Tengah Organisasi Global.



    Related Post: 
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments
    Item Reviewed: Konflik Diselesaikan secara Internal, Proaktif Menjaga Kredibilitas Organisasi Regional Asean Rating: 5 Reviewed By: myamazingadventure.com
    Scroll to Top